Paradigma Pendidikan IPS di Indonesia

Konsep awal pendidikan IPS di Indonesia dipengaruhi oleh pemikiran “social studies” yang berkembang di Amerika Serikat sejak tahun 1800-an yang memiliki pengalaman panjang dan reputasi akademis dalam bidang sosial. Hal ini dapat terlihat dengan penerbitan berbagai karya akademis bidang sosial oleh National Council for the Social Studies (NCSS). Konsep social studies mengalami perkembangan pada tahun 1900-an menjadi kajian akademik, antara lain tahun 1935 berdirinya NCSS yang dalam pertemuan pertama menghasilkan kesepakatan  sebagai pilar akademik yang menempatkan “social studies” sebagai “core curriculum” (kurikulum inti), dan pada tahun 1937 berupa kesepakatan mengenai pengertian “social studies” yang berawal dari pandangan Edgar Bruce Wesley, yakni “The social studies are the social sciences simplified for pedagogical purposes” (studi sosial adalah ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk tujuan pengajaran). Dalam perkembangan selanjutnya, Antara tahun 1940-1950 “social studies” mendapat serangan dari berbagai sudut; tahun. 1960-1970-an timbulnya tarik-menarik antara pendukung gerakan the new social studies yang dimotori oleh para sejarawan dan ahli-ahli ilmu sosial dengan gerakan “social studies” yang menekankan pada “citizenship education”. Para pendukung gerakan “the new social studies” kemudian mendirikan Social Science Education Consortium (SSEC). Sedangkan NCSS terus mengembangkan gerakan “social studies” yang terpisah pada “citizenship education” Pada era 1980-1990-an kelopok NCSS berhasil menyepakati “scope and sequence of social studies” (lingkup dan urutan studi sosial), yakni tahun 1963; kemudian pada tahun 1989 berhasil disepakati konsep “social studies” untuk abad ke 21 yang dituangkan dalam “Charting A Course: Social Studies for the 21st Century” (membentuk sebuah kursus: studi sosial untuk abad 21), dan terakhir pada tahun 1994 disepakati “Curriculum Standards for Social Studies” (standar kurikulum untuk studi sosial). Dalam perkembangan terakhir itu NCSS masih tetap menempatkan “citizenship education” sebagai inti dari tujuan “social studies”. Sementara itu pada kelompok SSEC, kelompok bidang studi ekonomi mengembangkan secara tersendiri “economics education”.

Konsep IPS untuk pertama kalinya masuk ke dalam dunia persekolahan Indonesia terjadi pada tahun 1972-1973, yakni dalam Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) IKIP Bandung. Dalam Kurikulum SD 8 tahun PPSP digunakan istilah “Pendidikan Kewargaan Negara/Studi Sosial” sebagai mata pelajaran sosial terpadu. Dalam Kurikulum tersebut digunakan istilah Pendidikan Kewargaan negara yang di dalamnya tercakup Sejarah Indonesia, Ilmu Bumi Indonesia, dan Civics yang diartikan sebagai Pengetahuan Kewargaan Negara. Ada tiga jenis program pendidikan sosial yang berkembang dalam kurikulum sistem pendidikan Indonesia yaitu program (pendidikan) ilmu-ilmu sosial (IIS) yang diasuh pada fakultas-fakultas sosial murni; disiplin ilmu pengetahuan sosial (PDIPS) yang diasuh pada fakultas-fakultas pendidikan ilmu sosial; dan pendidikan ilmu pengetahuan sosial (PIPS) yang diajarkan pada lembaga pendidikan persekolahan.

Dalam Kurikulum 1975 pendidikan IPS menampilkan empat profil yakni:  Pendidikan Moral Pancasila menggantikan Pendidikan Kewargaan Negara sebagai suatu bentuk pendidikan IPS khusus yang mewadahi tradisi “citizenship transmission”; pendidikan IPS terpadu untuk Sekolah Dasar; pendidikan IPS terkonfederasi untuk SMP yang menempatkan IPS sebagai konsep payung yang menaungi mata palajaran geografi, sejarah, dan ekonomi ; dan pendidikan IPS terpisah-pisah yang mencakup mata pelajaran sejarah, geografi, dan ekonomi untuk SMA, atau sejarah dan geografi untuk SPG. Bila disimak dari perkembangan pemikiran pendidikan IPS yang terwujudkan dalam Kurikulum sampai tahun 1990-an, pendidikan IPS di Indonesia mempunyai dua konsep, yakni: pertama, pendidikan IPS yang diajarkan dalam tradisi “citizenship transmissio” dalam bantuk mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dan Sejarah Nasional; kedua, pendidikan IPS yang diajarkan dalam tradisi “social science” dalam bentuk pendidikan IPS terpisah dari SMU, yang terkonfederasi di SLTP, dan yang terintegrasi di SD.

Dilihat dari perkembangan pemikiran yang berkembang di Indonesia sampai saat ini pendidikan IPS terpilah dalam dua arah, yakni: pertama, PIPS untuk dunia persekolahan yang pada dasarnya merupakan penyederhanaan dari ilmu-ilmu sosial dan humaniora, yang diorganisasikan secara psiko-pedagogis untuk tujuan pendidikan persekolahan; dan kedua, PDIPS untuk perguruan tinggi pendidikan guru IPS yang pada dasarnya merupakan penyeleksian dan pengorganisasian secara ilmiah dan meta psiko-pedagogis dari ilmu-ilmu sosial, humaniora, dan disiplin ilmu lain yang relevan untuk tujuan pendidikan.

Posted on 17 Januari 2013, in Education Corner. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: