Pendekatan dan Strategi Konsep Ilmu, Teknologi, dan Masyarakat dalam Pengajaran IPS SD

Pendekatan dan Strategi Konsep Ilmu, Teknologi, dan Masyarakat dalam Pengajaran IPS SD

Ruang lingkup kurikulum Standards of Social studies Amerika berisi kajian sistematis disiplin ilmu-ilmu sosial meliputi Antroplogi, Arkeologi, Ekonomi, Geografi, Sejarah, Hukum, Filsafat, Ilmu Politik, Psikologi, Agama, dan Sosiologi bahkan Humanistis dan Ilmu-Ilmu Alam. Dalam Curriculum Standards Framework Australia yang mengacu pada tujuan Studies of Society and Enviroment memaparkan sejumlah disiplin ilmu-ilmu sosial, yaitu Politik, Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antroplogi, Psikologi, dan Ekonomi. Sedangkan pengajaran IPS di Indonesia mempelajari kehidupan sosial yang didasarkan pada kajian geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, tata negara, dan sejarah, dengan tujuannya agar siswa mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang berguna bagi dirinya dalam menghadapi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan uraian di atas, maka pendekatan yang digunakan untuk pengajaran IPS adalah interdisipliner atau multidisipliner yaitu proses belajar mengajar kelas IPS, para siswa diajak, dibina dan didorong untuk mengkaji atau memecahkan masalah atau topik dipandang dari berbagai disiplin ilmu.

Richard C. Remy mengutip gagasan Philip Heath yang memaparkan alternatif pendekatan atau strategi mengembangkan ITM dalam pengajaran IPS sebagai berikut.

  1. Infusi ITM ke dalam mata pelajaran yang ada. Mata pelajaran yang mendasari pengajaran IPS, seperti Geografi, Ekonomi, Sosiologi, Antropologi, Tata Negara, dan Sejarah memberi peluang untuk pembelajaran konsep ITM. Keuntungannya adalah meningkatkan integritas dan koherensi kurikulum yang ada sehingga model pembelajaran ini dapat diterima sebagai bagian dari misi sekolah. kelemahannya adalah sulit memilih materi apa saja yang dibuang dari mata pelajaran tersebut agar konsep ITM masuk dalam mata pelajarn tersebut.
  2. Perluasan mata pelajaran yang ada. Topik-topik atau materi ITM dapat ditambahkan pada mata pelajaran yang sudah ada atau materi IPS tradisional. Keuntungannya: peluang untuk mengkaji materi ITM secara mendalam dengan mencari kesempatan bagaimana dan kapan menampilkan materi ITM. Kelemahannya: keterbatasan serta pembahasan yang diaangkat atau dibicarakan dari topik-topik ITM yang sederhana.
  3. Pembuatan mata pelajaran yang baru. Memisahkan ITM sebagai mata pelajaran tersendiri, seperti di Australia dam Amerika. Di Indonesia kajian ITM belum  diberikan secara khusus sebagai mata pelajaran tersendiri melainkan bersifat sisipan pada mata pelajaran tertentu. Keuntungannya: adanya kesempatan untuk mengembangkan kajian secara terkait antara ilmu, teknologi, dan masyarakat secara mendalam dan berkelanjutan.

Menurut Heath (1990), ada empat ciri program integral ITM dalam IPS, yaitu:

  1. Hasilnya dinyatakan secara jelas. Tujuan yang relevan dalam pembelajaran ITM adalah melek ilmu dan teknologi; membuat keputusan rasional untuk penelitian dan pemecahan masalah krusial masa kini dan masa datang; kemampuan melakukan pemahaman terhadap informasi sejumlah disiplin dan menerapkannya sesuai dengan kondisi masyarakat; memahami bahwa kemajuan ilmu dan teknologi merupakan bagian integral warisan masyarakat terdahulu, dan sadar akan semakin banyak pilihan untuk berkarir dalam bidang ilmu dan teknologi.
  2. Mengembangkan organisasi yang efektif. Memberi kemungkinan melakukan seleksi terhadap isi, proses, tujuan, aktivitas belajar, dan bahan pelajaran yang dapat ditempuh sehingga dapat membedakan dari mata pelajaran yang tidak memuat konsep-konsep ITM. Pengorganisasian pembelajaran strategi ini meliputi: dapat menjelaskan isu-isu dan identifikasi kejaadian untuk pengambilan keputusan; pengumpulan data lapangan dan data yang berkaitan dengan nilai; pertimbangan alternatif tindakan dan akibat-akibatnya; identifikasi tindakan; dan rencana tindakan.
  3. Sistem dukungan. Diperlukan dukungan baik guru maupun pihak tata usaha di sekolah tersebut. Diperkuat dengan keterlibatan pihak swasta dan pemerintah serta partisipasi guru dan sekolah pada tingkat provinsi maupun nasional. Dukungan aktif dan berkesinambungan dari ilmu lain dan tenaga administratif sekolah dapat mengembangkan dan mempertahankan program ITM yang berkualitas.
  4. Strategi instruksional. Adanya peran siswa dalam memadukan pembelajaran ITM ke dalam IPS, siswa berpartisipasi dalam semua tahap pembelajaran meliputi perencanaan, pembelajaran, evaluasi, muapun penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Posted on 17 Januari 2013, in Education Corner. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: