Kaitan Uang Saku dan Teori Belajar Behavioristik

Dalam teori belajar Behavioristik dikemukakan bahwa “belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon (Budiningsih, 2012:20).

Stimulus yang datang dari luar diri seseorang dan respon yang berasal dari dalam diri akan stimulus yang di menghasilkan suatu tindakan. Dalam hubungan antara uang saku dengan teori belajar behavioristik maka stimulus berasal dari orang tua sedangkan respon berasal dari siswa (SMA) dan mahasiswa. Dalam kegiatan observasi kelompok, siswa SMA dan mahasiswa menjadi sasaran bagi kami untuk memperoleh data-data.

 

Menurut teori belajar behavioristik yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. “Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pembelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut”(Internet, Wikipedia.org). Dari teori ini, dapat ditinjau dalam hubungan dengan penggunaan uang saku bahwa stimulus adalah pemberian orang tua berupa uang kepada anak. Sedangkan respon dapat dilihat dari anak dalam menggunakan uang yang diberikan oleh orang tua.

 

Perilaku terjadi bila ada stimulus dan respon. Dengan adanya stimulus dan respon yang dialami oleh seseorang mendorong untuk menunjukkan dalam perilaku. Menurut Ormrod (2008:422) mengatakan bahwa perilaku orang sebagian besar merupakan hasil dari pengalaman mereka dengan stimulus-stimulus lingkungan. Dewasa ini, dalam hubungan dengan era globalisasi, perilaku orang sangat terpengaruh dengan kebiasaan-kebiasaan dar luar negeri dengan adanya perkembangan teknologi.

 

Sikap dan perilaku yang terpengaruh ini dan sering terdengar di masyarakat anatara lain materialis, konsumerisme, dan hedonisme. Materialisadalah sebuah paham dimana masyarakat memandang segalanya dari segi materi. Orang yang memiliki jabatan dan harta yang melimpah pasti akan lebih dihargai oleh masyarakat sekitarnya, walaupun orang tersebut tidak memiliki intelektual yang bagus. Sebaliknya, orang yang memiliki intelektual tinggi tetapi tidak memiliki harta dan jabatan maka orang tersebut akan selalu direndahkan.Konsumerismeadalahpaham atau ideologi yang menjadikan seseorang atau sekelompok orang melakukan atau menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebihan atau tidak sepantasnya secara berkelanjutan. Hedonismeadalah kesenangan atau (kenikmatan) adalah tujuan akhir hidup dan yang baik yang tertinggi. Namun, kaum hedonis memiliki kata kesenangan menjadi kebahagiaan.

Dari sikap-sikap dan perilaku-perilaku yang terjadi di masyarakat yang dikemukakan di atas, dalam hasil observasi dan tanya jawab tentang penggunaan uang saku bagi siswa SMA dan mahasiswa dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan dalam penggunaan uang saku.  Siswa SMA cenderung melakukan hal-hal yang menyenangkan dia. Mahasiswa tidak terjerumus dalam sikap dan perilaku seperti materialis, konsumerisme, dan hedonisme. Umumnya, mahasiswa lebih teratur dalam penggunaan uang saku yang diberikan.

 

Posted on 23 April 2013, in Makalah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: