Komponen Pengendalian Intern

Setelah beberapa kegagalan audit yang signifikan terjadi selama tahun 1980-an di Amerika Serikat, maka di tahun 1992 The Committee of Sponsoring Organization (COSO) dibentuk untuk mendefinisikan kembali pengendalian intern dan kriteria untuk menentukan efektivitas suatu sistem pengendalian intern.  COSO menerbitkan laporan Internal Control-Integrated Framework yang terdiri dari empat jilid laporan berdasarkan hasil riset, diskusi, perdebatan, pertimbangan, draft, eksposur yang diajukan kepada konstituen.

Laporan COSO menggambarkan pandangan dari banyak partisipan, meliputi lima anggota organisasi yang mensponsori sebagai anggota yakni The American Institute of Certified Public Accountants (AICPA), The Institute of Internal Auditors (IIA), The American Accounting Association (AAA), The Institute of Management Accountants (IMA), The Financial Executive Institute (FEI). COSO menghasilkan komponen model pengendalian intern yang memiliki cakupan luas.

Ada lima komponen model pengendalian intern yang dihasilkan oleh COSO, yaitu:

a.      Lingkungan Pengendalian

Tulang punggung sebuah perusahaan adalah karyawan yang meliputi atribut individu seperti integritas, nilai etika, dan kompetensi; dan lingkungan tempat karyawan bekerja. Karyawan merupakan mesin penggerak organisasi dan fondasi untuk komponen lainnya.  Oleh karena itu, lingkungan pengendalian suatu organisasi merupakan dampak kolektif dan berbagai faktor dalam menetapkan, meningkatkan atau memperbaiki efektivitas kebijakan dan prosedur-prosedur yang ditetapkan.

AICPA mengidentifikasi tujuh faktor penting dalam lingkungan pengendalian yaitu komitmen kepada integritas dan nilai etika, filosofi dan gaya manajemen, struktur organisasi (organizational structure), komite audit, metode penetapan wewenang dan tanggung jawab (methods of assigning authority and responsibility), praktik dan kebijakan tentang sumberdaya manusia ((human resources policies and practices), dan pengaruh eksetrnal (external influences).

 

b.      Aktivitas Pengendalian

Perusahaan harus menetapkan prosedur dan kebijakan pengendalian dan melaksanakannya, untuk membantu menjamin bahwa manajemen dapat menetapkan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk menghadapi ancman-ancaman yang muncul, sehingga tujuan organisasi dapat dicapai secara efektif.

Maka, Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan aturan yang memberi jaminan cukup bahwa tujuan pengendalian manajemen dicapai, yang meliputi lima kelompok yaitu otorisasi yang tepat terhadap aktivitas dan transaksi, pemisahan tugas, perancangan dan penggunaan dokumen dan catatan yang memadai, perlindungan yang memadai terhadap akses dan penggunanaan aktiva dan catatan, pengecekkan independen terhadapa kinerja.

c.       Pengukuran Risiko

Organisasi harus menyadari dan waspada terhadap berbagai risiko yang dihadapinya. Untuk itu, perusahaan menetapkan serangkaian tujuan yang terintegrasi dengan kegiatan penjualan, produksi, pemasaran, keuangan, dan kegiatan lainnya sehingga organisasi dapat beroperasi sebagaimana mestinya. Organisasi pun menetapkan mekanisme untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengeloal risiko-risiko terkait.

Dalam mewaspadai risiko-risiko yang  akan dihadapi, hal-hal yang dapat dilakukan adalah mengidentifikasi ancaman, estimasi risiko, estimasi kerugian, identifikasi pengendalian, estimasi manfaat dan pengorbanan, dan menentukan efektivitas manfaat – pengorbanan.

d.      Informasi dan Komunikasi

Sistem informasi dan komunikasi mengitari kegiatan pengawasan. Sistim tersebut memungkinkan karyawan organisasi untuk memperoleh dan menukar informasi yang dibutuhkan untuk melaksanakan, mengelola, dan mengendalikan kegiatan organisasi.

Ada hubungan antara tujuan Sistem Informasi Akuntansi dengan langkah-langkah yang dilakukan oleh seorang akuntan untuk menghasilkan informasi keuanga. Tujuan SIA meliputi mengidentifikasi dan mencatat seluruh transaksi yang valid/ sah, menggolongkan transaksi secara tepat, mencatat transaksi sesuai dengan nilai moneternya, mencatat transaksi dalam periode akuntansi yang tepat, dan menyajikan transaksi dan informasi lainnya secara tepat dalam laporan keuangan. 

Sesuai dengan tujuan SIA tersebut, langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh akuntan dalam menghasilkan informasi keuangan, yaitu mengakui transaksi akuntansi dan merekam data yang relevan, melaksanakan prosedur pengawasan seperti editing dan verifikasi, mencatat transaksi dalam jurnal, memposting transaksi dalam rekening-rekening buku besar, dan menyusun laopran keuangan.

e.       Pemantauan

Seluruh proses bisnis harus dipantau, dan dilakukan modifikasi sepenuhnya. Dengan cara ini, sistem akan bereaksi secara dinamis yaitu berubah jika kondisinya menghendaki perubahan.

Ada beberapa metoda kunci (pokok) dalam melakukan pemantauan kinerja yaitu:

1.      Supervisi yang efektif, mencakup: pelatihan dan asistensi karyawan, pemamntauan kinerja karyawan, koreksi kesalahan, penjagaan aktiva dengan memantau karyawan yang memiliki akses ke aktiva tersebut. Supervisi ini penting dalam organisasi yang tidak dapat mengelaborasi pelaporan pertanggungjawaban atau tidak bisa melakukan pemisahan fungsi karena terlalu kecil organisasi tersebut.

2.      Pelaporan pertanggungjawaban, mencakup: anggaran, kuota, sledul/ jadwal, biaya standar, kuliatas standar; lapora kinerja yang berisi informasi realisasi rencana, rencana (anggaran), dan selisih keduanya; prosedur untuk menyelidiki selisih yang jumlahnya signifikan dan prosedur untuk menindaklanjuti penyimpangan dari rencana.

3.      Internal auditing, mencakup aktivitas pengkajian terhadap daya andal dan integritas informasi operasi dan keuangan, dan memberikan suatu penilaian terhadap efektivitas pengawasan intern. Aktivitas yang dilakukan mencakup penilaian ketaatan karyawan terhadap kebijakan manajemen, prosedur, dan peraturan serta hukum yang berlaku; dan penilaian efektivitas dan efisiensi manajemen. Audit intern memberikan penekanan pada pengendalian manajemen, sehingga dapat mendeteksi:

a.       Jumlah jam kerja lembur yang terlalu banyak/ berlebih (excess overtime)

b.      Pemakaian aktiva yang tidak optimal (underused asset)

c.       Adanya persediaan barang yang telah usang, baik usang secara fisik maupun usang secara teknologi (obselete inventory)

d.      Penggantian biaya perjalanan dinas (travel expense reimbursement)

e.       Anggaran dan kuaota terlalu longgar (excessively loosenbudgets and quotas)

f.       Adanya pengeluaran modal yang tidak dikaji secara memadai sebelum disetujui

g.      Persoalan-persoalan yang berkait dengan proses produksi (production bottlenecks)

Agar dapat bekerja secara efektif dan independen, maka fungsi internal audit ini secara organisasi harus independen dari fungsi operasi dan akuntansi, yang biasanyan fungsi ini langsung bertanggung jawab kepada direksi.

Posted on 23 April 2013, in Makalah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: