Integritas Sebagai Guru di Sekolah

Pengenalan diri sebagai seorang guru akan membantu guru untuk mempertahankan integritas yang ia yakini. Pengenalan yang pertama adalah pengenalan diri sebagai ciptaan yang terbatas akan membantu guru untuk tetap rendah hati serta mencari hikmat dan pengertian dengan tetap takut akan Tuhan. Kesadaran manusia sebagai ciptaan juga menuntut manusia melakukan segala sesuatunya hanya untuk memuliakan nama Allah, apakah yang dapat dilakukan ciptaan kepada Penciptanya yang selalu setia untuk membaharuinya dari hari ke hari. Pengenalan yang kedua adalah pengenalan diri sebagai pribadi, Allah menciptakan manusia sebagai pribadi yang bebas untuk menentukan pilihan dengan konsekuensi konsekuensi yang ada di dalamnya. Tetapi tidak terlepas dari manusia ciptaan yang diselamatkan, Allah juga meminta kita untuk mengerjakan keselamatan kita.

Panggilan, pengenalan terhadap diri (filsafat diri) dan komitmen akan menghasilkan sebuah integritas bagi seorang guru. Integritas yang dapat memulihkan dan menuntun anak ke arah yang benar, integritas yang mampu membawa pembaharuan budi dalam diri setiap anak. Dan semua ini dapat terjadi hanya oleh Allah yang turut bekerja di dalamnya.

1.      Mengajarkan kejujuran

Dalam proses belajar mengajar sangat penting untuk mengajarkan kejujuran dan integritas peserta didik. Dalam hal ini dikarenakan selain menjadi media pengajar, guru juga harus bisa menjadikan peserta didik menjadi manusia pembangunan yang modern dan jujur berintegritas tinggi maka dari itu sebagai pendidik guru harus memiliki keahlian khusus sebagai guru seperti apakah dia mampu memberikan bimbingan dalam membantu siswa mengatasi masalah dan kesulitan-kesulitannya, dan sebagainya. Selain itu mempunyai dan mendapat peranan penting dalam mempertahankan mental anak. Sehingga mereka dapat mempunyai sumbangan kepada perkembangan nasional dan kesejateraan negara, karena mendidik anak-anak berarti mendidik generasi muda bangsa untuk negaranya. Dalam hal ini guru mempunyai dan dapat peran dalam mempertahankan kesehatan mental bangsa dengan pengetahuannya tentang tingkah laku manusia, penemuan-penemuan sekarang dan teori-teori cara memandang problema manusia terutama peserta didik dan integritas setiap orang sangatlah berbeda-beda. Maka dari itu pendidik terutama guru harus memilki keahlian khusus untuk menjadi guru dan mempunyai integrasi tinggi dan berkepribadian baik.

Dalam hal ini maka guru harus bisa membaca psikologi anak didiknya. Untuk itulah hal yang paling utama diperhatikan dan untuk membantu guru dalam upaya mengajarakan kejujuran dan integritas peserta didiknya adalah memahami perasaan, alasan, dan tujuan anak berbohong atau melakukan sesuatu hal yang kurang baik agar dapat mencetak peserta didik yang berintegritas dan bermental sehat. Maka yang perlu diperhatikan adalah kondisi perasaan dan keadaan kesehatan mental anak didiknya.

Inilah kadang yang sering dilupakan oleh guru karena sering menganggap mereka masih kecil. Padahal justru jika peserta didik diperhatikan perasannya sejak kecil maka dia akan merasa nyaman dan aman dan dapat tumbuh dengan mental yang sehat. Maka dari itu perlu untuk mempelajari pskologi perkambangan peserta didik.

Perasaan biasanya didefinisikan sebagai gejala psikis yang bersifat subjektif yang umumnya behubungan dengan gejala-gejala yang mengenal, dan dialami dalam kualitas seenang atau tidak senang dalam berbagai taraf. Perasaan berlainan dengan berfikir, maka perasaan itu bersifat subjektif, banyak dipengaruhi oleh keadaan diri seseorang. Perasaan umumnya bersangkutan dengan fungsi mengenal artinya perasaan dapat timbul karena mengamati, menganggap, mengkhayal, mengingat-ingat, atau memikirkan sesuatu.

2.      Jujur dan Tulus

Menjadi guru bukan sekadar melakukan pekerjaan biasa, tetapi juga memenuhi panggilan hati dan melakukan perjalanan spiritual. Dalam perjalanan profesinya, seorang guru terus mengaitkan tiga hal, yakni diri sendiri dengan anak didik dan bidang pengetahuan/keterampilan yang diampunya.

Yang  pertama, proses penemuan diri seorang guru dalam perjalanan panggilannya  adalah  proses  penemuan dan pengukuhan identitas serta integritas. Setiap guru seharusnya menggali diri sendiri, menemukan identitasnya sendiri, dan mengembangkan gaya serta metode dan teknik mengajar yang sesuai dengan diri sendiri untuk menyinarkan aura terbaiknya yang bisa menerangi peserta didik.

Penemuan dan kesadaran diri ini akan menjadi modal bagi guru untuk mempertahankan integritasnya dan menjadi dirinya sendiri secara utuh, sesuai harkat kemanusiaannya.

Guru hendaknya bisa menjadikan dirinya sebagai model bagi para siswanya sehingga mereka bisa mengikuti perilaku terpuji yang ditunjukkan oleh guru-gurunya.

Profesi guru sangat identik dengan peran mendidik seperti membimbing, membina, mengasuh ataupun mengajar. Ibarat sebuah contoh lukisan yang akan ditiru oleh anak didiknya. Baik buruk hasil lukisan tersebut tergantung dari contonya. Guru (digugu dan ditiru)  otomatis menjadi teladan. Melihat peran tersebut, sudah menjadi kemutlakan bahwa guru harus memiliki integritas dan personaliti yang baik dan benar. Hal ini sangat mendasar, karena tugas guru bukan hanya mengajar (transfer knowledge)  tetapi juga menanamkan nilai-nilai dasar dari bangun karakter atau akhlak anak.

Keteladanan seorang guru adalah segala yang dapat diberikan untuk keberhasilan anak didiknya. Inilah aktualisasi dari sosok seorang yang memiliki integritas tinggi, yang akan senantiasa berpikir dan memikirkan apa yang dapat diberikan untuk anak didiknya sebelum memikirkan apa yang akan didapat. Memberi lebih penting sebelum menerima

Evaluasi dan intropeksi diri adalah salah satu karakter guru sejati. Karenanya sebagai seorang yang berintegritas tinggi, tentunya guru akan bertidak berdasarkan kebenaran atau ketidakbenaran, bukan beradasarkan menang atau kalah di dalam proses pengajarannya. Pemimpin yang benar dan berintegritas adalah yang menyadari saat dirinya salah, bukan yang selalu menang meski dirinya salah.

Akar dari pendidikan itu pahit, tetapi buahnya manis. Dan Guru yang berintegritas tinggi akan selalu memiliki harapan pada hasil pendidikan, yaitu menggantikan pikiran-pikiran yang kosong dengan pikiran yang terbuka dan dinamis.

Posted on 26 April 2013, in Education Corner. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: