Sejarah HAM Dunia

Hak asasi manusia sebagai gaagsan, paradigm serta kerangka konseptual tidak lahir secara tiba-tiba sebagimana kita lihat dalam Universal Declaration of Human Right tanggal 10 Desember 1948, namun melalui suatu proses yang cukup panjang dalam sejarah peradaban manusia.

Awal perkembangan hak asasi manusia dimulai tatkala ditandatangani Magna Carta tahun 1215 oleh Raja John Lackland.kemudia juga penandatanganan Petition of Right pada tahun 1628 oleh Raja Charles I. Setelah itu perjuangan lebih nyata pada penandatanganan Bill of Right, oleh Raja Willem III pada tahun 1689, sebagai hasil dari pergolakan politik yang dahsyat yang disebut sebagai the Glorious Revolution. Peristiwa ini tidak saja sebagai kemenangan parlemen atas raja, melainkan juga merupakan kemenangan rakyat dalam pergolakan yang menyertai pergolakan Bill of Right yang berlangsung kurang lebih 60 tahun. Perkembangan selanjutnya perjuangan hak asasi manusia dipengaruhi oleh pemikiran filsuf Inggris John Locke yang berpendapat bahwa manusia tidaklah secara absolute menyerahkan hak-hak hidupnya kepada penguasa. Hak- hak yang diserahkan kepada penguasa adalah hak-hak yang berkaitan dengan perjanjian tentang Negara, adapun hak-hak lainnya tetap berada pada masing-masing individu. Puncak perkembangan perjuangan hak-hak asasi manusia tersebut yaitu ketika Human Rights pertama kalinya dirumuskan secara resmi dalam Declaration of Independence Amerika Serikat pada tahun 1776.  Dalam deklarasi Amerika Serikat tertanggal 4 Juli 1776 tersebut dinyatakan bahwa seluruh umat manusia dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Esa beberapa hak yang tetap dan melekat padanya. Perumusan hak-hak asasi manusia secara resmi kemudian menjadi dasar pokok konstitusi Negara Amerika Serikat tahun 1787, yang mulai berlaku 4 Maret 1789.

Perjuangan hak asasi manusia sebenarnya telah diawali dim Perancis sejak Rousseau, dan perjuangan itu memuncak dalam revolusi Perancis, yang berhasil menetapkan hak-hak asasi manusia dalam Declaration des Droits L’Homme et du Citoyen yang ditetapkan oleh Assemblee Natiionale, pada tangal 26 Agustus 1789. Semboyan Revolusi Perancis yaitu: Liberte (kemerdekaan), egalite (kesamarataan), fraternite (persaudaraan). Maka menurut konstitusi Perancis yang dimaksudkan dengan hak-hak asasi manusia adalah: hak-hak yang dimiliki manusia menurut kodratnya, yang tidak dapat dipisahkan dengan hakikatnya.

Dalam rangka konseptualisasi dan reinterpretasi terhadap hak-hak asasi manusia yang mencakup bidang-bidang yang lebih luas, Franklin D. Roosevelt, Presiden Amerika Serikat pad apermulaan abad ke-20 memformulasikan empat macam hak-hak asasi manusia yang dikenal dengan the Four Freedon, yaitu: Fredon of speech (kebebasan untuik berbicara dan utnuk mengemukakan pendapat), Freedom of Religion (kebebasan beragama), Freedom of Fear (kebebasan dari rasa takut), dan Freedom of Want (kebebasan dari kemelaratan). Hal ini yang menjadi inspirasi dari Declaration of Human Rights tahun 1948 Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Melalui Declaration of Human Rights, deklarasi sedunia tentang hak-hak asasi manusia PBB tersebut, bangsa-bangsa sedunia melalui wakil-wakilnya memebrkan pengakuan dan perlindungan secara yuridis formal walaupun realisasinya juga disesuaikan dengan kondisi serta peraturan perundangan yang berlaku dalam setiap Negara di dunia ini.

Posted on 6 Mei 2013, in Makalah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: