Potret Pendidikan Indonesia Masa Kini

Pengantar

Membangun pendidikan Karakter dalam pembentukan kualitas diri seseorang harus dimulai dari awal. Peran penting dalam hal ini adalah semua orang (diri-sendiri, orang-orang dekat disekitar) dan instistusi yang bergerak dalam ranah pendidikan baik formal maupun non formal. Mengacu pada Tema Oikos edisi kali ini, maka sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan menghadapi tantangan dalam penyelenggaraan pendidikan. Diharapkan Pendidikan diterapkan secara menyeluruh baik intelektual maupun kepribadian (character building). Pada kenyataannya, dengan system pendidkan dan kurikulum yang berlaku, maka pendidikan dewasa ini lebih mengedepankan intelektual bila dibandingkan dengan pembentukan kepribadian peserta didik. Pendidik lebih mengutamakan target kurikulum (materi pelajaran). Mengejar nilai ujian yang tinggi (mengacu pada standar UN), dengan berprinsip yang penting materi pelajaran selesai sebelum ujian. Tetapi pendidikan yang mengacu pada mendewasakan menjadi terabaikan. Ini adalah tantangan yang harus dihadapi dan perlu mendapat tanggapan dan penyelesaian, baik dari dalam diri, peran serta dari orang lain, institusi yang bergerak dalam bidang pendidikan (formal dan non formal).

Pembiasaan sejak dini

Belajar dari kebiasaan – kebiasaan sejak kecil dari rumah. Bagaimana cara makan – minum ( ibu memberi ASI, menyuap bubur, memberi minuman ), mengajar anak untuk mulai berbicara, misalnya menyebut bapak dan mama. Mengajar untuk berjalan, ketika sudah mulai mengenal benda – benda di sekitar, menyuruh untuk membuang sampah, dan masih banyak kebiasaan – kebiasaan kecil lainnya yang sudah ditanamkan sejak dini. Dari contoh – contoh ini, sudah dimulai dari dini, suatu pendidikan non formal, sehingga hal – hal ini, seperti cara makan tidak diajarkan kembali di sekolah. Dengan pembiasaan, maka akan tertanam dalam diri, apa yang dapat mengembangkan dan menumbuhkan pribadi seseorang. Anak yang belum bisa mengerti dan berbicara, ia lebih menggunakan sebagian indera – inderanya, misalnya penglihatan, perabaan, pendengaran, dimana dapat mempengaruhi hidupnya. Maka pada usia ini, anak lebih cepat meniru apa yang dilakukan dari pada memahami dan menangkap sesuatu dengan daya nalar dan pikirannya. Pengajaran lebih banyak bersifat praktek. Apabila dengan cukup umur dan pertumbuhan diri, daya pikir dan nalarnya mulai bekerja, pengajaran bisa dengan teori maupun praktek. Memberi pemahaman, mengingatkan untuk melakukan yang baik, mengawasi dan memberi kesadaran. Tentunya semua orang tua ingin agar anaknya bertumbuh menjadi anak yang baik dalam keluarga, masyarakat, Gereja, dan Negara. Keseimbangan dalam pertumbuhan sangat diperlukan baik Pertumbuhan fisik, intelektual dan kepribadian yang baik.

Potret pendidikan dewasa ini dan harapan

Mengejar nilai (quantitas) dan perasaan cemas bagi siswa – siswi. Seperti Ujian Nasional dengan standar nilai yang ditentukan. Mendengar beberapa pendapat dari masyarakat bahwa ada indikasi pendidikan menjadi alat politik pejabat yang bergerak dalam bidang pendidikan, demi nama baik dan gengsi. Dilakukan dengan berbagai cara untuk kepentingan pribadi dan bersama ( baca: nama daerah ). Dalilnya yaitu agar dinilai sukses di masa jabatannya dan nilai plus bagi daerah tertentu di mata daerah yang lain. Siswa-siswa yang menjadi korban adalah tingkat menengah ( SMP dan SMA / sederajat ). Sebuah pertanyaan: Bagaimana dengan penilaian akan kepribadian dalam kesuksesan itu? Kesuksesan tidak hanya diraih dengan nilai yang tinggi. Kesuksesan pun diraih dengan identitas diri ( kepribadian ) yang baik. Keduanya tidak dapat dipisahkan dalam hidup seseorang dan disadari bahwa sangat penting untuk keberlangsungan hidup manusia selama masih di dunia. Pendidikan di Negara kita beberapa tahun belakangan lebih berorientasi pada intelligence quotient (IQ) dan kurang mengembangkan aspek emotional intelligence (EQ) serta spiritual intelligence (SQ). Kurikulum dan program pengajaran lebih mengarah akan kecerdasan intelektual, mengejar materi pelajaran sampai tuntas untuk persiapan menghadapi ujian akhir. Sedangkan Program pengajaran yang berorientasi pada pembentukan kepribadian dinilai sangat kurang. Sebagai peserta didik, bukan hanya ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan tetapi juga pendidikan nilai-nilai dan karakter pribadi. Tolak ukurnya pada dunia kerja nyata. Ketika berada di dunia kerja, dari hasil sebuah penelitian, kesuksesan seseorang dalam bekerja ditentukan sekitar 20 % oleh hard skills (keterampilan-keterampilan keras: ilmu atau nilai akademik dan keterampilan teknis yang dimiliki) dan sekitar 80 persen oleh soft skills (keterampilan-keterampilan lunak: interpersonal skills dan intrapersonal skill; menjalin hubungan antar pribadi, berkomunikas, mendengarkan, memberi kontribusi dan umpan balik dalam rapat, memimpin, bekerja sama, berdialog memecahkan masalah, integritas, etos kerja, motivasi, kreativitas, kemandirian, dsb.*Hati Baru, Hard Skills-soft skills, P. Johanis Mangkey, MSC). Peserta didik perlu mendapat pemahaman akan hubungan pendidikan dengan hidupnya. Pendidikan yang menuju masa depan yang cerah, bahagia. Hidup yang kompleks (universal), yang mencakup berbagai aspek. Memanfaatkan keterampilan yang dimilkinya untuk membangun hidup yang bermutu. Hidup di era ini akan menghadapi banyak tantangan, yang lebih menjerumuskan orang kepada kriminalitas (kekerasan, pemerasan, penyiksaan, pencurian, pembunuhan, dll), merusak hidup pribadi (ekstasi, sabu-sabu, ineks, ganja). Sebagai pendidik perlu mengingatkan, adanya pendekatan, memberi kesadaran akan akibat yang terjadi apabila terjerumus didalamnya. Disini dibutuhkan pribadi yang tangguh dalam menghadapi setiap godaan dan tantangan yang menghadang. Kita mengenal akan multi intelligence, yang mencakup intellectual quotient (IQ), Spiritual Quotient, dan Emotional Quotient (EQ). Seseorang dikatakan bermutu dalam hidupnya apabila dapat menyeimbangkan kecerdasan-kecerdasan tersebut di atas (IQ, SQ, dan EQ). Akan menjadi lebih bermutu hidupnya apabila ia juga mempunyai kecerdasan daya juang (AQ). Ditengah menghadapi setiap situasi yang menyulitkan dan menantang, namun ia mampu bertahan dan tidak terperosok ke dalam kesulitan dan tantangan itu. Dapat di jelaskan bahwa Adversity Quotient (AQ) adalah kemampuan manusia untuk bertahan dalam menghadapi tantangan dan kesulitan hidup (Educare, kecerdasan berjuang, John de Santo, November 2010,hal. 22). Dalam hidup bermasyarakat, dapat dijumpai tipe orang yang mampu bertahan (mental bajah) dalam menghadapi kesulitan dan tantangan, dan tipe yang mudah menyerah. Mampu bertahan dalam arti bahwa ia akan hidup sehat jasmani dan rohani, fisik dan mental. Sedangkan yang mudah menyerah akan mengalami cacat hidup (jasmani dan rohani, fisik dan mental), hidup dalam kubangan masalah, kesenangan sesaat, hidup yang tidak terarah (mudah terpengaruhi), dan hidup dalam tekanan. Pendidikan yang dibangun, mengarah pada mendewasakan seseorang dalam hidup. Dewasa dalam fisik dan mental, serta jasmani dan rohani. Ada kalanya, seseorang yang kelihatan dewasa secara fisik belum tentu mempunyai mental dan spiritual yang dewasa ataupun sebaliknya. Ciri kedewasaan akan terlihat dalam keberlangsungan hidup setiap hari. Bagaimana dapat mentransfer nilai-nilai yang telah diterima dalam hidupnya dan relasi dengan Sang Pencipta serta sesamanya. Diharapkan, baik individu, pengajar, dan lembaga-lembaga pendidikan dapat mewujudkan 9 aspek manusia dewasa yang dicita-citakan pendidikan nasional, yaitu: beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab.

Penutup

Dilema situasi pendidikan saat ini. Kebanyakan orang bertanya-tanya dan berharap agar pendidikan lebih jelas arahnya ke depan. Pendidikan yang belum tersentuh dengan kebutuhan zaman dan situasi yang dihadapi. Pendidikan yang lebih menekan satu aspek, dan aspek yang lain terabaikan. Disadari bahwa tujuan utama pendidikan adalah untuk keutuhan hidup manusia, sehingga generasi tidak terbawa arus menuju hidup yang gelap, merusak kepribadian dan citra diri yang sesungguhnya sebagai makhluk yang berakhlak mulia (berakal budi). Sebagai pribadi, generasi penerus, lembaga-lembaga yang bergerak dalam pendidikan mempunyai usaha, semangat, tekad, dan langkah yang pasti dan kuat untuk memerangi problem yang menghambat pendidikan, pendidikan manusia seutuhnya, menjadi orang yang bermoral, bertanggung jawab atas hidup yang telah dianugerahkan oleh Sang Pencipta. Kebahagiaan hidup di dunia, menjadi jaminan untuk kebahagiaan abadi ketika telah mengakhiri hidupnya menuju hidup bersama Sang Pencipta.

Posted on 16 Juni 2013, in Education Corner. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: