Gedung Yayasan Mardi Wiyata Pusat di Malang

Beberapa gambar yg dilihat tampak depanGambarGambarGambarGambar

Kantor Yayasan Mardi Wiyata Pusat

GambarGambarGambarGambar

Kantor Yayasan Mardi Wiyata Pusat

Kantor Yayasan Mardi Wiyata Pusat

Kantor ini berada di kota Malang
Jl. Karangwidoro 07, Malang – Jawa Timur

Potret Pendidikan Indonesia Masa Kini

Pengantar

Membangun pendidikan Karakter dalam pembentukan kualitas diri seseorang harus dimulai dari awal. Peran penting dalam hal ini adalah semua orang (diri-sendiri, orang-orang dekat disekitar) dan instistusi yang bergerak dalam ranah pendidikan baik formal maupun non formal. Mengacu pada Tema Oikos edisi kali ini, maka sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan menghadapi tantangan dalam penyelenggaraan pendidikan. Diharapkan Pendidikan diterapkan secara menyeluruh baik intelektual maupun kepribadian (character building). Pada kenyataannya, dengan system pendidkan dan kurikulum yang berlaku, maka pendidikan dewasa ini lebih mengedepankan intelektual bila dibandingkan dengan pembentukan kepribadian peserta didik. Pendidik lebih mengutamakan target kurikulum (materi pelajaran). Mengejar nilai ujian yang tinggi (mengacu pada standar UN), dengan berprinsip yang penting materi pelajaran selesai sebelum ujian. Tetapi pendidikan yang mengacu pada mendewasakan menjadi terabaikan. Ini adalah tantangan yang harus dihadapi dan perlu mendapat tanggapan dan penyelesaian, baik dari dalam diri, peran serta dari orang lain, institusi yang bergerak dalam bidang pendidikan (formal dan non formal).

Pembiasaan sejak dini

Belajar dari kebiasaan – kebiasaan sejak kecil dari rumah. Bagaimana cara makan – minum ( ibu memberi ASI, menyuap bubur, memberi minuman ), mengajar anak untuk mulai berbicara, misalnya menyebut bapak dan mama. Mengajar untuk berjalan, ketika sudah mulai mengenal benda – benda di sekitar, menyuruh untuk membuang sampah, dan masih banyak kebiasaan – kebiasaan kecil lainnya yang sudah ditanamkan sejak dini. Dari contoh – contoh ini, sudah dimulai dari dini, suatu pendidikan non formal, sehingga hal – hal ini, seperti cara makan tidak diajarkan kembali di sekolah. Dengan pembiasaan, maka akan tertanam dalam diri, apa yang dapat mengembangkan dan menumbuhkan pribadi seseorang. Anak yang belum bisa mengerti dan berbicara, ia lebih menggunakan sebagian indera – inderanya, misalnya penglihatan, perabaan, pendengaran, dimana dapat mempengaruhi hidupnya. Maka pada usia ini, anak lebih cepat meniru apa yang dilakukan dari pada memahami dan menangkap sesuatu dengan daya nalar dan pikirannya. Pengajaran lebih banyak bersifat praktek. Apabila dengan cukup umur dan pertumbuhan diri, daya pikir dan nalarnya mulai bekerja, pengajaran bisa dengan teori maupun praktek. Memberi pemahaman, mengingatkan untuk melakukan yang baik, mengawasi dan memberi kesadaran. Tentunya semua orang tua ingin agar anaknya bertumbuh menjadi anak yang baik dalam keluarga, masyarakat, Gereja, dan Negara. Keseimbangan dalam pertumbuhan sangat diperlukan baik Pertumbuhan fisik, intelektual dan kepribadian yang baik.

Potret pendidikan dewasa ini dan harapan

Mengejar nilai (quantitas) dan perasaan cemas bagi siswa – siswi. Seperti Ujian Nasional dengan standar nilai yang ditentukan. Mendengar beberapa pendapat dari masyarakat bahwa ada indikasi pendidikan menjadi alat politik pejabat yang bergerak dalam bidang pendidikan, demi nama baik dan gengsi. Dilakukan dengan berbagai cara untuk kepentingan pribadi dan bersama ( baca: nama daerah ). Dalilnya yaitu agar dinilai sukses di masa jabatannya dan nilai plus bagi daerah tertentu di mata daerah yang lain. Siswa-siswa yang menjadi korban adalah tingkat menengah ( SMP dan SMA / sederajat ). Sebuah pertanyaan: Bagaimana dengan penilaian akan kepribadian dalam kesuksesan itu? Kesuksesan tidak hanya diraih dengan nilai yang tinggi. Kesuksesan pun diraih dengan identitas diri ( kepribadian ) yang baik. Keduanya tidak dapat dipisahkan dalam hidup seseorang dan disadari bahwa sangat penting untuk keberlangsungan hidup manusia selama masih di dunia. Pendidikan di Negara kita beberapa tahun belakangan lebih berorientasi pada intelligence quotient (IQ) dan kurang mengembangkan aspek emotional intelligence (EQ) serta spiritual intelligence (SQ). Kurikulum dan program pengajaran lebih mengarah akan kecerdasan intelektual, mengejar materi pelajaran sampai tuntas untuk persiapan menghadapi ujian akhir. Sedangkan Program pengajaran yang berorientasi pada pembentukan kepribadian dinilai sangat kurang. Sebagai peserta didik, bukan hanya ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan tetapi juga pendidikan nilai-nilai dan karakter pribadi. Tolak ukurnya pada dunia kerja nyata. Ketika berada di dunia kerja, dari hasil sebuah penelitian, kesuksesan seseorang dalam bekerja ditentukan sekitar 20 % oleh hard skills (keterampilan-keterampilan keras: ilmu atau nilai akademik dan keterampilan teknis yang dimiliki) dan sekitar 80 persen oleh soft skills (keterampilan-keterampilan lunak: interpersonal skills dan intrapersonal skill; menjalin hubungan antar pribadi, berkomunikas, mendengarkan, memberi kontribusi dan umpan balik dalam rapat, memimpin, bekerja sama, berdialog memecahkan masalah, integritas, etos kerja, motivasi, kreativitas, kemandirian, dsb.*Hati Baru, Hard Skills-soft skills, P. Johanis Mangkey, MSC). Peserta didik perlu mendapat pemahaman akan hubungan pendidikan dengan hidupnya. Pendidikan yang menuju masa depan yang cerah, bahagia. Hidup yang kompleks (universal), yang mencakup berbagai aspek. Memanfaatkan keterampilan yang dimilkinya untuk membangun hidup yang bermutu. Hidup di era ini akan menghadapi banyak tantangan, yang lebih menjerumuskan orang kepada kriminalitas (kekerasan, pemerasan, penyiksaan, pencurian, pembunuhan, dll), merusak hidup pribadi (ekstasi, sabu-sabu, ineks, ganja). Sebagai pendidik perlu mengingatkan, adanya pendekatan, memberi kesadaran akan akibat yang terjadi apabila terjerumus didalamnya. Disini dibutuhkan pribadi yang tangguh dalam menghadapi setiap godaan dan tantangan yang menghadang. Kita mengenal akan multi intelligence, yang mencakup intellectual quotient (IQ), Spiritual Quotient, dan Emotional Quotient (EQ). Seseorang dikatakan bermutu dalam hidupnya apabila dapat menyeimbangkan kecerdasan-kecerdasan tersebut di atas (IQ, SQ, dan EQ). Akan menjadi lebih bermutu hidupnya apabila ia juga mempunyai kecerdasan daya juang (AQ). Ditengah menghadapi setiap situasi yang menyulitkan dan menantang, namun ia mampu bertahan dan tidak terperosok ke dalam kesulitan dan tantangan itu. Dapat di jelaskan bahwa Adversity Quotient (AQ) adalah kemampuan manusia untuk bertahan dalam menghadapi tantangan dan kesulitan hidup (Educare, kecerdasan berjuang, John de Santo, November 2010,hal. 22). Dalam hidup bermasyarakat, dapat dijumpai tipe orang yang mampu bertahan (mental bajah) dalam menghadapi kesulitan dan tantangan, dan tipe yang mudah menyerah. Mampu bertahan dalam arti bahwa ia akan hidup sehat jasmani dan rohani, fisik dan mental. Sedangkan yang mudah menyerah akan mengalami cacat hidup (jasmani dan rohani, fisik dan mental), hidup dalam kubangan masalah, kesenangan sesaat, hidup yang tidak terarah (mudah terpengaruhi), dan hidup dalam tekanan. Pendidikan yang dibangun, mengarah pada mendewasakan seseorang dalam hidup. Dewasa dalam fisik dan mental, serta jasmani dan rohani. Ada kalanya, seseorang yang kelihatan dewasa secara fisik belum tentu mempunyai mental dan spiritual yang dewasa ataupun sebaliknya. Ciri kedewasaan akan terlihat dalam keberlangsungan hidup setiap hari. Bagaimana dapat mentransfer nilai-nilai yang telah diterima dalam hidupnya dan relasi dengan Sang Pencipta serta sesamanya. Diharapkan, baik individu, pengajar, dan lembaga-lembaga pendidikan dapat mewujudkan 9 aspek manusia dewasa yang dicita-citakan pendidikan nasional, yaitu: beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab.

Penutup

Dilema situasi pendidikan saat ini. Kebanyakan orang bertanya-tanya dan berharap agar pendidikan lebih jelas arahnya ke depan. Pendidikan yang belum tersentuh dengan kebutuhan zaman dan situasi yang dihadapi. Pendidikan yang lebih menekan satu aspek, dan aspek yang lain terabaikan. Disadari bahwa tujuan utama pendidikan adalah untuk keutuhan hidup manusia, sehingga generasi tidak terbawa arus menuju hidup yang gelap, merusak kepribadian dan citra diri yang sesungguhnya sebagai makhluk yang berakhlak mulia (berakal budi). Sebagai pribadi, generasi penerus, lembaga-lembaga yang bergerak dalam pendidikan mempunyai usaha, semangat, tekad, dan langkah yang pasti dan kuat untuk memerangi problem yang menghambat pendidikan, pendidikan manusia seutuhnya, menjadi orang yang bermoral, bertanggung jawab atas hidup yang telah dianugerahkan oleh Sang Pencipta. Kebahagiaan hidup di dunia, menjadi jaminan untuk kebahagiaan abadi ketika telah mengakhiri hidupnya menuju hidup bersama Sang Pencipta.

Misi Pelayanan Pendidikan Kongregasi Frater BHK di Indonesia

Misi Pelayanan Pendidikan
Kongregasi Frater BHK di Indonesia

Sejarah berdirinya Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus adalah keprihatinan dan kepedulian akan dunia pendidikan. Pendiri kongregasi, Mgr. Andreas Ignatius Schaepman, tergerak hatinya untuk mendirikan lembaga yang dapat menolong dan mengatasi kesulitan yang dihadapi dalam pendidikan. Pada masa itu (1973), di negeri yang dikenal dengan sebutan kincir angin itu, mengalami krisis dalam pendidikan. Secara garis besar dikatakan bahwa warga tidak mendapatkan pendidikan yang selayaknya, khususnya anak-anak. Sejauh yang diketahui penulis, ini dipengaruhi oleh beberapa factor, seperti kehidupan ekonomi warga, banyak warga yang terserang penyakit, dan tidak ada pelajaran agama (system pendidikan yang diterapkan pemerintah). Dengan kepedulian dan kesederhaan, pendiri mendapat dukungan, motivasi, semangat, dan tekad untuk mewujudkan impiannya. Awal mula memang ada kesulitan yang dialami, namun akhirnya menuai kesuksesan dengan hadirnya Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di bumi pertiwi (1928). Hingga kini, misi pelayanan pendidikan yang telah dipelopori oleh para misionaris, masih bergaung dan berjalan di tengah masyarakat. Agar semakin maju perlu adanya pengembangan dalam karya. Misi pelayanan yang diemban dalam bidang pendidikan perlu mendapat perhatian yang lebih, dalam membentuk dan membina pribadi yang bertumbuh dan berkembang menurut citra-Nya. Teladan utama kita adalah Yesus Sang Guru Sejati. Sebagai anggota kongregasi, karya perutusan yang dijalankan adalah misi pelayanan Yesus Sang Guru Sejati itu sendiri. Misi dan perutusan yang membawa kasih dan kebahagiaan bagi semua orang. Semangat hidup Yesus Sang Guru Sejati patut dihidupi baik pribadi maupun kelompok (kongregasional). Dalam pelayanan-Nya, Yesus selalu mendekatkan diri dengan Bapa-NYa (bdk. Luk 5:16), berbelas kasih kepada orang banyak (bdk Mrk. 8:2), menerima, bersama, serta menyembuhkan yang miskin dan menderita (bdk Mat 17:14-18), memberi pengampunan (Yoh 8:11), membela kebenaran dan bersikap adil (bdk Luk 20:24-26), teguh dan bertahan dalam menghadapi tantangan dan godaan (bdk. Mat 4:1-11), menerima setiap orang yang datang kepada-Nya (bdk. Mat 19:14), dan sosok pribadi yang melayani bukan dilayani (bdk. Yoh: 13:13-17) Semangat hidup Sang Guru ini menjadikan Ia diterima, disimpati, dan dikagumi banyak orang yang berjumpa dan mengenal-Nya. Misi Pelayanan Yesus bukan untuk kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan bagi diri-Nya atau sebagian orang tetapi untuk semua orang. Semangat-semangat hidup Sang Guru Sejati ini, hendaklah menjadi dan mewarnai seluruh karya pelayanan bagi penerus generasi kongregasi. Tidak patah semangat, putus di tengah jalan, namun membangun semangat hidup, meretas jalan lurus dalam mencapai hidup sejati. Menghalau setiap tantangan, semuanya demi karya pelayanan yang lebih cerah dan membawa manusia menuju kesejatian dan keutuhan hidupnya, yaitu kebahagiaan abadi diakhir hidupnya. Pelayanan yang mengarah pada keselamatan bagi semua orang.

DOA PENYEMBUHAN BATIN SEBELUM TIDUR

Doa ini saya kutip dari sebuah sumber, semoga dapat bermanfaat.
Didoakan sebelum tidur malam.

Tuhan Yesus melalui kuasa Roh Kudus, hadirlah pada masa laluku sementara aku tidur.
Sembuhkanlah segala luka dalam batinku yang pernah kualami,
luka karena kurang kasih sayang dari orang tua dan sesama,
luka karena pelecehan, luka karena penghinaan.
Biarlah dengan darah_MU, Engkau jadikan aku utuh kembali.
Semua hubungan persaudaraan yang sudah rusak dengan keluargaku
maupun saudaraku, sembuhkanlah ya Tuhan.
Dari segala ketakutan, kecemasan, kegelisahan, keputusasaan, sembuhkanlah aku.
Hadirlah Engkau ya Tuhan supaya aku bisa mengampuni diriku sendiri,
mengampui situasi yang menyakitkan.
Bantulah aku ya Tuhan, supaya aku dapat mengambil akar pahit yang ada dalam hidupku
dan isilah hatiku dengan kasih_MU dalam tidurku malam ini.
Terima Kasih Tuhan dan berkatilah aku.

Bapa Kami yang ada di Surga……. (dst)

Salam Maria…. (3X).

Motto dan Amanat Pendiri Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus (Frater BHK)

Motto pendiri Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus (Mgr. A. I. Schaepman) adalah:

IN SOLLICITUDINE ET SIMPLICITATE artinya:

DALAM KEPRIHATINAN DAN KESEDERHANAAN

Amanat yang diembankan kepada para anggota kongregasi dan yang bekerja dalam karya pelayana kongregasi adalah:

1. Saya memerlukan Frater-frater berkeyakinan mendalam tentang pentingnya segala sesuatu dari pendidikan dan pembentukan kaum muda.

2. Saya memerlukan biarawan yang rajin dan unggul dalam kebijakan dan kecakapan yang dijiwai oleh suatu itikad murni dan penuh cinta kasih

3. Saya memerlukan guru-guru yang rajin dalam hal kebenaran

“BUNDA HATI KUDUS”

Doakanlah Kami

Panggilan Spesial menjadi Biarawan Frater Bunda Hati Kudus (Frater BHK)

SIAPA DAN APA FRATER BUNDA HATI KUDUS (FRATER BHK)

1. Frater Bunda hati Kudus lazim disebut Frater Pengajar atau Frater Kaul Kekal (tidak akan ditahbiskan menjadi imam), yang berbusana biara warna putih dengan Salib berkalung hitam. Ciri hidupnya seperti bruder hanya beda sebutan karena yang lebih dikenal tidak ditahbiskan adala bruder sedangkan frater berarti akan ditahbiskan. Sebutan frater ini berlaku sejak awal berdirinya kongregasi, dimana pendiri meneruskan sebutan bagi salah satu kelompok hidup bersama yang terlebih dahulu berdiri dengan menyebutkan anggotanya “frater” tetapi kemudian bubar, sehingga pendiri mau meneruskan tradisi sebuah peristiwa sejarah ini di Belanda.

2. Santa Maria adalah pelindung kongregasi dengan gelar Bunda Hati Kudus. Ia menunjukkan kepada kami anggota kongregasi Putera-nya Yesus yang lemah lembut dan rendah hati, menganugerahkan ketenangan dan penerangan kepada orang yang letih lesu dan berbeban berat yang datang kepada_Nya.

3. Maria Bunda Hati Kudus mengajak kami agar dengan kesederhanaan hati memperkenalkan cinta kasih dan kebaikan hati Allah.

4. Bersama dengan banyak orang kami merupakan Gereja Yesus Kristus. Kami mau mengikuti Dia dari dekat dan bersama Dia, menjadi saksi tentang pembebasan dan keselamatan bagi semua.

5. Kongregasi kami adalah bagian dari Gereja. Dalam persekutuan Religius kami mengikat diri kepada kaul Kemurnian, kaul ketaatan, dan Kaul Kemiskinan dalam semangat injili. Kami saling memberi dan menerima untuk hidup, berdoa, dan berkarya bersama.

6. Kongregasi kami menerima tugas dari Gereja, membantu orang muda dalam perkembangannya menuju kedewasaan, dan dengan perhatian yang seimbang untuk pandangan hidup mereka.

7. Bila Keadaan meminta, kami wajib rela dan siap sedia untuk menangani tugas-tugas baru demi pelayanan kepada sesama

APA KARYA FRATER BHK?

a. Karya dalam Bidang Pendidikan: Sekolah dan Asrama

b. Karya/ tugas-tugas lain: pembinaan mental/ rohani, pertanian, peternakan, dan karya pastoral pada umumnya

Tahap-Tahap Pendidikan Dalam Kongregasi frater Bunda Hati Kudus (Frater BHK)

Ada empat tahap dalam kongregasi Frater Bunda Hati Kudus (Frater BHK) yang dilalui dari awal sebagai seorang awam sampai dengan menjadi seorang anggota tetap dalam kongregasi. Tahap-tahap itu meliputi:

1. Postulat

Postulat merupakan tempat pembinaan dan pendidikan bagi para calon frater. Orang yang menjalani pembinaan dan pendidikan untuk menjadi seorang Frater disebut Postulan. Masa Postulan adalah masa orientasi bagi para calon yaitu masa pengenalan timbal balik antara calon dan tarekat (kongregasi). Pada masa ini adalah masa seperti di Seminari menengah (SMA) dimana seseorang mengikuti persamaan setelah tamat SMA ke Seminari Tinggi yang biasanya disebut kelas retorika. Para calon mulai dikenalkan dengan kehidupan dalam kongregasi terlebih dalam pembinaannya meliputi hal-hal kerohanian dan kepribadian yang integral. Pembinaan dalam hidup rohani dan pembentukan kepribadian calon sehingga semakin bertumbuh dan berkembang. Lama pembinaan pada masa ini selama 1 tahun sebagai persiapan memasuki masa novisiat. Untuk dapat melanjutkan ke tahap berikut,calon mengajukan surat lamaran ke Dewan Provinsi Indonesia (DPI) beserta dengan penilaian dari Pemimpin Postulan untuk dipertimbangkan oleh DPI, apakah dapat diterima atau ditolak. Apabila diterima maka calon akan memasuki masa Novisiat dan ditolak maka akan dipulangkan ke keluarganya. Pada masa ini belum dipanggil sebagai frater.

2. Novisiat

Masa novisiat diawali dengan penerimaan jubah dan pemberian nama frater dalam Perayaan Ekaristi yang meriah. Seorang calon sudah dipanggil sebagai frater yang biasa disebut dengan novis (orang yang menjalani pembinaan di Novisiat). Masa novisiat dijalankan selama 2 tahun. Tahun pertama adalah tahun kanonik yaitu tahun kontemplasi dimana novis dibina dalam hidup kerohanian, pengenalan tarekat, hidup bersama (komunitas), menumbuhkembangkan kepribadian yang semakin baik. Novis hidup dalam suasana ketenangan, keheningan untuk mengembangkan dan membina hidupnya baik secara pribadi maupun bersama dengan Magister (pemimpin novis). Intinya adalah pembinaan lebih mengarah pada hidup rohani (olah rohani). Tahun kedua adalah tahun eksperimen (tahun pastoral). Pada tahun ini novis akan mempraktekkan hidup di komunitas selama 3 bulan. Novis akan mengalami secara langsung kehidupan dalam kongregasi di komunitas karya. Novis mulai diperkenalkan karya-karya nyata yang dijalankan oleh kongregasi. Selama menjalani masa novisiat program pembinaan yang ditekankan adalah hidup rohani, hidup berkomunitas, pengenalan akan tarekat, kerasulan dan pembinaan kepribadian secara mendalam. Setelah selesai menjalani pembinaan di novisiat, tahap akhir adalah novis mengajukan lamaran untuk mengikrarkan Kaul Perdana dengan advis (penilaian dari Magister) ke DPI. Apabila dengan penilaian dan pertimbangan DPI dinyatakan layak maka novis akan mengikrarkan Kaul Perdana dan diutus ke komunitas karya untuk berkarya dalam karya pelayanan kongregasi. Apabila lamaran ditolak maka Novis akan dipulangkan ke keluarga dan menjadi seorang awam.

3. Yuniorat

Masa ini dimulai ketika frater (novis) mengikrarkan Kaul Perdana yang sering disebut frater yunior. Masa ini berlangsung sampai dengan 9 tahun. Selama kurun waktu ini, frater yunior hidup dan berkarya di komunitas-komunitas yang menjadi tempat karya kongregasi. Setelah mengikrarkan kaul perdana frater yunior akan membaharui kaul 1 tahun kemudian dan selanjutnya setiap 2 tahun frater yunior membaharui kaul. Kemandirian dalam hidup rohani dan kepribadian terus dikembangkan menuju kedewasaan. Penekananya adalah On Going Formation (Pembinaan dan Pengembangan diri secara terus menerus) baik secara pribadi maupun komunal (bersama) dalam bidang rohani, kepribadian, dan intelektual. Pembaharuan kaul akan berakhir apabila frater tersebut telah mengikrarkan Kaul Kekal. Dalam rentang masa 3 – 9 tahun seorang frater yunior dapat mengajukan untuk mengikrarkan kaul kekal tergantung kematangan diri, kesiapan pribadi dan kemauan tulus frater yang bersangkutan.

4. Kaul Kekal

Kaul Kekal merupakan keputusan definitif bagi seorang frater untuk berserah setia seumur hidup dalam tarekat (kongregasi). Mengabdikan seluruh hidupnya kepada Tuhan dan sesama melalui Gereja dan Tarekat.
Mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada ALLAH adalah ibadah yang sejati.

SYARAT-SYARAT MENJADI ANGGOTA FRATER BUNDA HATI KUDUS (FRATER BHK)

1. Pemuda beriman katolik (berusia minimal 17 tahun)

2. Telah dipermandikan dan menerima Sakramen Krisma (Surat Permandian dan Surat Krisma)

3. Sehat Rohani dan Jasmani (Surat Keterangan kesehatan dari Dokter)

4. Surat izin orang tua

5. Surat keterangan dari Pastor Paroki

6. Pendidikan minimal SLTA/ sederajat

Bunda Hati Kudus
Doakanlah Kami

Komunitas-Komunitas di Provinsi Indonesia Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus (Frater BHK)

Menurut data yang diterbitkan dalam Buku Tahunan Provinsi Indonesia (DPI), Edisi Januari 2013 di Provinsi Indonesia terdapat 16 komunitas. Dari 16 komunitas ini, 15 komunitas berada di Indonesia dan 1 komunitas berada di Lodwar-Kenya-Afrika. Mungkin ada yang bertanya mengapa komunitas berada di Afrika tetapi termasuk dalam komunitas provinsi Indonesia? salah satu pertimbangan kongregasi bahwa karena hanya memiliki 1 komunitas maka tidak dapat membentuk provinsi sendiri dan para frater yang berkarya di sana hanya 1 frater orang Belanda dan yang lainnya frater-frater dari Indonesia. Saat menulis tentang hal ini, ada 4 frater dari Indonesia yang berkarya di Kenya. Dalam pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan karya di Kenya para frater dibantu oleh staf-staf yang merupakan orang Kenya sebagai pegawai.

Berikut nama-nama komunitas yang dimaksud. Penulis membagi dalam beberapa wilayah di Indonesia termasuk di Afrika:

1. Di Sumatera memiliki 1 komunitas dengan nama Komunitas St. Andreas – Palembang- Sumatera Selatan

2. Di Kalimantan memiliki 1 komunitas dengan nama Komunitas St. Eusebius – Nunukan – Kalimantan Timur

3. Di Jawa semua komunitas berada di Jawa Timur. (a) Komunitas St. Paulus – Kepanjen – Surabaya I; (b) Komunitas St. Vinsensius a Paulo – Kebraon – Suarabaya II; (c) Komunitas St. Yohanes Berchmans – Kediri; (d) Komunitas Bunda Hati Kudus – Malang I (Celaket 21); (e) Komunitas Bunda Hati Kudus – Malang II (Novisiat Frater BHK); (f) Komunitas St. Gregorius – Malang III (Provinsialat Frater BHK; (g) Komunitas St. Willibrordus – Malang IV (DPU Frater BHK).

4. Di Nusa Tenggara Timur (NTT) terdapat di Pulau Timor, Pulau Sumba, dan Pulau Flores.

Di Pulau Sumba terdapat 1 komunitas yaitu Komunitas St. Yohanes Don Bosco – Weetebula – Sumba Barat Daya.

Di Pulau Timor terdapat 1 komunitas yaitu Komunitas St. Borgias – Oesapa – Kupang.

Di Pulau Flores terdapat di Larantuka (kab. Flores Timur), di Maumere (kab. Sikka), dan di Ende (kab. Ende). Komunitas St. Gabriel Podor – Larantuka; Komunitas St. Yoseph – Maumere I dan Komunitas St. Yoseph – Maumere II (Postulat Frater BHK); Komunitas St. Aloysius – Ndao – Ende.

5. Di Lodwar – Kenya – Afrika: Brotherhouse Bunda Hati Kudus